Pemuda dan Fenomena Cabe-Cabean
Dalam
beberapa waktu terakhir banyak istilah ‘alay’ yang beredar di zaman sekarang
ini yaitu ‘cabe-cabean’. Fenomena seperti apa itu hingga menjadi buah bibir
masyarakat saat ini? ‘Cabe-cabean’ merupakan sebutan yang biasa digunakan oleh
anak gaul zaman sekarang untuk menyebut atau memberikan sebutan pada remaja
putri yang senangnya keluyuran malam dan nongkrong di tempat-tempat biasa
mereka nongkrong seperti di pinggiran jalan, di bawah jembatan, dan di banyak
tempat lainnya, yang beberapa tempat di antaranya merupakan tempat gelap
sehingga meresahkan karena digunakan sebagai tempat nongkrong. Bagaimana tidak
meresahkan? Terkadang mereka nongkrong di jalan-jalan gelap yang sangat sepi,
berpakaian mini dan seksi, seringkali cari sensasi dan sering dianggap ‘waw’
oleh sebagian para laki-laki. Bukan hanya itu, istilah ini juga merujuk pada
remaja wanita yang suka berbonceng tiga, memakai celana pendek dan suka
berkeliaran di fly over. Namun istilah “cabe-cabean” sebenarnya merupakan
kependekan makna dari “Cewe Alay Bahan Exxxan”, sebutan bagi cewek remaja yang
sering hadir di balapan motor liar, dimana para pemenang dari balapan liar itu
bisa mengencaninya. Yang patut menjadi perhatian, istilah cabe-cabean merupakan
fenomena budaya anak muda yang muncul dari realitas masyarakat dan berkaitan
dengan identitas perempuan di tengah ruang publik kita. Mereka muncul dari
realitas masyarakat perkotaan, dimana terkait dengan tata ruang perkotaan. Tak
dapat di pungkiri bahwaperkembangan budaya masyarakat selalu terkait dengan space dan places dimana
perilaku budaya senantiasa muncul dan terwujud dengan berbagai pola aktivitas
pelakunya dalam sebuah seting ruang. Maka dapat dipahami bahwa tata
ruang publik sebagai tempat masyarakat bertemu, berkumpul dan berinteraksi, di
dalam prosesnya mendorong perilaku kehidupan sehari-hari.
Kita
semua mengetahui bahwa ruang-ruang publik yang ada di masyarakat perkotaan di
dominasi oleh ruang komersial dan pusat-pusat hiburan yang tumbuh semakin
subur. Sehingga muncul budaya anak muda yang berorientasi pada gaya, penampilan
diri dan senang-senang. Bahkan ruang-ruang yang tersedia sangat jarang
berorientasi pada nilai-nilai edukatif, di lain pihak ruang-ruang publik yang
berorientasi pada hiburan mempunyai prosentase jauh lebih tinggi. Artinya
perubahan sikap ataupun tingkah laku dari remaja perkotaan yang mengarah kepada
perilaku yang negatif sangat terkait dengan semakin minimnya ruang publik yang
bersifat edukatif yang bisa menjadi wadah para remaja dalam mengisi waktu
luangnya. Hal ini sangat berhubungan dengan kebijakan pemerintah terkait pembangunan
tata ruang perkotaan, yang pasti akan berdampak pada kehidupan sosial
masyarakat, serta munculnya budaya baru.
Bahkan
ketika fenomena cabe-cabean dianggap muncul dari arena balapan liar adalah
sebuah bukti bahwa ia muncul karena minimnya ruang publik untuk melakukan
hubungan sosial dan interaksi secara beradab. Minimnya sarana maupun media bagi
para pemuda-pemudi ini untuk mengembangkan dirinya secara positif. Apalagi jika
kita bicara fenomena cabe-cabean ini terkait dengan peran perempuan dalam ruang
publik kita. Dimana perempuan hanya sekedar menjadi objek seksual belaka untuk
menyenangkan hasrat laki-laki. Sehingga istilah cabe-cabean merupakan cara
pandang laki-laki yang membentuk streotype yang merendahkan perempuan serta
salah satu bentuk kekerasan berbasis gender. Bahkan jika di tinjau lebih jauh,
adanya istilah “cabe-cabean” merupakan sebuah praktik politik kultural melalui
“penamaan” yang kaitannya dengan kekuasaan laki-laki terhadap perempuan. Yang
di takutkan dari munculnya istilah “cabe-cabean” ini adalah ia menjadi sebuah
dasar pemahaman yang dapat membentuk identitas dan subjek perempuan di tengah
masayarakat kita.
Untuk
orang tua yang memiliki anak perempuan yang baru saja menginjak
remaja solusinya cuma satu jaga anaknya masing-masing! Bentengi
keluarga dengan agama, awasi terus anak-anaknya, peduli terhadap lingkungan
sekitar rumah, tidak apatis kepada sesama, jangan egois dengan hanya
mengutamakan kepentingan sendiri tapi juga harus peduli terhadap kepentingan
bersama dan berbagi solusi pada persoalan bangsa ini. Terima kasih, semoga
bermanfaat.
Kesimpulan :
Penyebab banyaknya cabe-cabean
adalah Pergaulan yang bebas, lalu karena sering menonton yang tidak baik
seperti Ganteng-ganteng serigala atau 7 manusia harimau atu sering nonton gosip
atau film-film porno, seks di mana-mana dan juga merokok,narkoba
Referensi:
http://www.dakwatuna.com/2014/05/24/50989/menghadapi-fenomena-cabe-cabean-dan-terong-terongan-orang-tua-harus-lebih-cerdas/#ixzz3GtINnXJr
http://m.kompasiana.com/post/read/640195/1/cabe-cabean.html
http://m.kompasiana.com/post/read/640195/1/cabe-cabean.html
M.Cakra Gilang Tawakal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar